Prospek Pasar ikan lele dumbo
Peluang pasar lele dumbo tidak hanya terbatas untuk memenuhi kebutuhan pasar konvensional seperti konsumen rumah tangga, restoran, atau rumah makan yang membutuhkan pasokan lele dumbo ukuran konsumsi. Setiap subsistem dalam budi dayanya juga memiliki pasar yang membutuhkan pasokan lele dumbo dari berbagai jenis ukuran, tergantung pada subsistem usaha budi daya lele dumbo yang dilakukan
Kondisi di atas menunjukkan bahwa pembudidayaan lele dumbo tidak harus dilakukan secara integreted (terpadu) mulai dari pembenihan, pendederan dan pembesaran dalam satu unit usaha. Namun, bisa dipecah-pecah menjadi beberapa subsistem secara terpisah. Kenyataan inilah yang terjadi di lapangan. Dari sekian banyak peternak yang terjun dalam usaha budi daya lele dumbo, hanya sebagian kecil yang membudidayakannya secara integreted di dalam satu unit usaha.Sebagian besar peternak justru hanya mernbudidayakan lele dumbo dalam satu atau duasubsistem.
ItU berarti ada peternak yang hanya bertindak sebagai pembenih dan ada peternak yang hanya bertindak sebagai pendeder. Selebihnya ada peternak yang bergerak hanya di biding usaha pembesaran.
Dengan demikian peluang usaha budi daya di setiap subsistem sangat terbuka lebar; karena semua subsistem ini saling berkaitan satu sama lain.
Satu hal terpenting, peluang pasar lele dumbo tidak hanya ada di dalam negeri. Lele dumbo berukuran besar juga berpeluang untuk di ekspor ke beberapa negara, sebagaimana yang pernah diminta olel negara Korea Selatan beberapa waktu lalu. Namun permintaan tersebut belum dapat terpenuhi akibat produksi yang belum kontinu, sehinggai peluang tersebut belum termanfaatkan dengan baik
Sumber : Khairuman Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, Agromedia Pustaka, 2008.
Rabu, 30 September 2009
Selasa, 29 September 2009
jenis tanah untuk kolam ikan
Tanah
Keadaan jenis tanah penting diperhatikan karena akan berpengaruh langsung terhadap kemiringan dan besar kecilnya pematang.
Pemeliharaan ikan di kolam sangat tergantung pada pematang untuk menahan volume air. Ketinggian air kolam baru dapat dipertahankan ketika tanah dasar dan pematang dapat menahan air dan tidak porous. Tanah liat berpasir atau lempung liat cukup
berpasir biasanya memiliki plastisitas tinggi dan tidak poros.
Ciri tanah dengan plastisitas tinggi biasanya tidak mudah terputus ketika dibentuk memanjang seperti pencil, tetapi mudah pecah bila dibentuk lempengan dan dipijat dengan jari. Tanah dengan plastisitas tinggi juga ditandai dengan tidak terlalu menciut kalau kering dan tidak terlalu lengket kalau basah. Tanah sawah biasanya ditandai dengan retak-retak kalau kering, dikenal dengan nama selo (tanah yang retak-retak) dan lengket ketika basah.
Jenis tanah yang paling baik untuk pembuatan kolam adalah jenis tanah liat atau lempung yang sedikit berpasir (sandy loom). tanah liat atau lempung dengan kadar liat antara 35-55% biasanya bersifat hidup dan mudah dibentuk. Untuk mengetahuinya ada cara yang sangat sangat efektif, yaitu dengan cara menggenggam tanah tersebut. Jika tanah tersebut mudah dibentuk dalam arti kata tidak pecah, tetapi juga tidak melekat di tangan kita bisa disimpulkan hahwa tanah tersebut merupakan tanah liat dengan sedikit berpasir.
Jenis tanah kedua yang dianjurkan adalah jenis tanah lempung liat berpasir, terapan atau beranjangan dengan kadar liat sekitar 20 - 35%. Kedua jenis tanah ini sangat kuat untuk menahan air, sehingga sangat cocok untuk dibuat pematang yang kokoh.
Jenis tanah ketiga yang boleh dipergunakan untuk membuat kolam adalah jenis tanah lempung berpasir yang berfraksi kasar dengan kadar liat hanya sekitar 30%. Jenis tanah ini awalnya memang akan sulit menahan air. Namun lama-kelamaan dengan pengolahan tanah yang baik dan terus menerus, ditambah adanya sedimen atau endapan tanah yang terbawa air sungai maka akan timbul daya tahan terhadap air. Kolam di daerah pegunungan biasanya tergolong jenis ini, mengandung banyak pasir tetapi masih cukup layak dibuat pematang.
Tanah dengan kandungan pasir yang banyak (lebih dari 70%) terutama yang berbatu tidak cocok untuk dibuat kolam karena tidak bisa menahan air dan sulit dibentuk. Jenis tanah yang demikian masih memungkinkan apabila keseluruhannya dibeton atau ditembok.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Keadaan jenis tanah penting diperhatikan karena akan berpengaruh langsung terhadap kemiringan dan besar kecilnya pematang.
Pemeliharaan ikan di kolam sangat tergantung pada pematang untuk menahan volume air. Ketinggian air kolam baru dapat dipertahankan ketika tanah dasar dan pematang dapat menahan air dan tidak porous. Tanah liat berpasir atau lempung liat cukup
berpasir biasanya memiliki plastisitas tinggi dan tidak poros.
Ciri tanah dengan plastisitas tinggi biasanya tidak mudah terputus ketika dibentuk memanjang seperti pencil, tetapi mudah pecah bila dibentuk lempengan dan dipijat dengan jari. Tanah dengan plastisitas tinggi juga ditandai dengan tidak terlalu menciut kalau kering dan tidak terlalu lengket kalau basah. Tanah sawah biasanya ditandai dengan retak-retak kalau kering, dikenal dengan nama selo (tanah yang retak-retak) dan lengket ketika basah.
Jenis tanah yang paling baik untuk pembuatan kolam adalah jenis tanah liat atau lempung yang sedikit berpasir (sandy loom). tanah liat atau lempung dengan kadar liat antara 35-55% biasanya bersifat hidup dan mudah dibentuk. Untuk mengetahuinya ada cara yang sangat sangat efektif, yaitu dengan cara menggenggam tanah tersebut. Jika tanah tersebut mudah dibentuk dalam arti kata tidak pecah, tetapi juga tidak melekat di tangan kita bisa disimpulkan hahwa tanah tersebut merupakan tanah liat dengan sedikit berpasir.
Jenis tanah kedua yang dianjurkan adalah jenis tanah lempung liat berpasir, terapan atau beranjangan dengan kadar liat sekitar 20 - 35%. Kedua jenis tanah ini sangat kuat untuk menahan air, sehingga sangat cocok untuk dibuat pematang yang kokoh.
Jenis tanah ketiga yang boleh dipergunakan untuk membuat kolam adalah jenis tanah lempung berpasir yang berfraksi kasar dengan kadar liat hanya sekitar 30%. Jenis tanah ini awalnya memang akan sulit menahan air. Namun lama-kelamaan dengan pengolahan tanah yang baik dan terus menerus, ditambah adanya sedimen atau endapan tanah yang terbawa air sungai maka akan timbul daya tahan terhadap air. Kolam di daerah pegunungan biasanya tergolong jenis ini, mengandung banyak pasir tetapi masih cukup layak dibuat pematang.
Tanah dengan kandungan pasir yang banyak (lebih dari 70%) terutama yang berbatu tidak cocok untuk dibuat kolam karena tidak bisa menahan air dan sulit dibentuk. Jenis tanah yang demikian masih memungkinkan apabila keseluruhannya dibeton atau ditembok.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Senin, 28 September 2009
Persyaratan teknik topografi kolam ikan
Segi Teknik
Selain keenam syarat sosial ekonomi tersebut di atas, persyaratan teknik juga penting untuk diperhatikan. Persyaratan teknik ini meliputi topografi, tanah, dan air.
1. Topografi
Topografi adalah bentuk keseluruhan dari permukaan tanah (datar, bergelombang atau curam). Topografi merupakan sorotan kita yang pertama kali karena akan menentukan tipe, luas, jumlah, dan kedalaman kolam yang akan dibuat.
Tanah yang miring sekali, tidak bisa dibangun unit perkolaman karena nantinya bentuk kolamnya akan kecil dan pematangnya lebar. Pematang yang lebar ini berfungsi agar kuat menahan massa air yang besar yang terkumpul di bawahnya. Begitu juga apabila tanahnya terlalu datar, akan memakan biaya yang besar untuk menggali tanahnya. Selain itu juga akan menyulitkan pembuangan airnya (drainase).
Ada enam tipe tempat yang mempunyai sifat dan kegunaan khusus untuk pembuatan kolam, yaitu lembah yang berbentuk V dan lembah yang dasarnya mendatar'
a. Lembah yang berbentuk V tajam
Jangan pernah membuat kolam ikan di lembah ini karena harus membuat pematang yang tinggi untuk mendapatkan kolam yang ukurannya kecil. Hal ini tidak efisien karena hanya membuang biaya dan tenaga dengan percuma, sedangkan usaha yang dilakukan tidak tepat pada sasaran.
b. Lembah yang dasarnya berbentuk V tidak begitu tajam
Lembah yang berbentuk demikian masih memungkinkan untuk dibuat kolam. Hanya saja kolam yang dibuat berukuran kecil-kecil karena dasar lembahnya sempit. Lembah yang berbentuk seperti ini lebih baik jika dibanding lembah yang pertama, karena pematang yang dibuat tidak terlalu lebar.

c. Lembah yang dasarnya berbentuk V membulat
Lembah ini dapat dibuat kolam yang lebih lebar dibandingkan dengan lembah yang berbentuk V tidak begitu tajam. Kesulitan utamanya adalah pada saat diadakan pengeringan, karena sistem pengairan yang terpaksa dibuat secara seri.
d. Lembah yang dasarnya mendatar di salah satu lerengnya dengan sungai yang mengalir di dasar lereng yang lain
Daerah semacam ini relatif lebih mudah dibangun komplek perkolaman yang luas meskipun terpaksa disusun secara seri. Caranya dengan menggali saluran di kaki lereng yang pertama tadi dan membelokkan arus sungai seperlunya sehingga sungai bercabang di suatu tempat yang tinggi. Saluran buatan ini berfungsi memberikan suplai air ke kolam yang dibangun di antara kedua saluran.
e. Lembah yang dasarnya mendatar di kaki kedua lereng dengan saluran sungai di tengah dataran Daerah ini paling ideal untuk dibangun unit perkolaman. Kolam biasanya dibangun dengan ukuran yang lebih luas di kedua sisi aliran sungai tadi. Dengan demikian selain ukuran kolamnya bisa luas, jumlahnya pun bisa banyak. Sumber air bisa diperoleh dengan jalan membendung sungai tadi dan membuat saluran air pemasukan di kedua lereng lembah tadi. Sungai berfungsi sebagai saluran pelimpahan air apabila terjadi banjir besar atau debitnya bertambah sehingga kolam terbebas dari bahaya banjir yang tidak diinginkan.

f.Lembah yang dasarnya terlalu datar
Lembah dengan topografi datar tidak cocok untuk dibangun unit perkolaman. Selain biaya penggalian tanahnya besar, pemilik akan kesulitan untuk membuang atau mengalirkan air setelah unit perkolaman tersebut jadi. Sedangkan syarat kolam yang baik selain mudah diairijuga harus mudah dikeringkan.

Lembah yang terlalu datar akan mengalami masalah ketika hujan deras datang. karena areal perkolaman akan tergenangi air dari sekitar lembah.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Selain keenam syarat sosial ekonomi tersebut di atas, persyaratan teknik juga penting untuk diperhatikan. Persyaratan teknik ini meliputi topografi, tanah, dan air.
1. Topografi
Topografi adalah bentuk keseluruhan dari permukaan tanah (datar, bergelombang atau curam). Topografi merupakan sorotan kita yang pertama kali karena akan menentukan tipe, luas, jumlah, dan kedalaman kolam yang akan dibuat.
Tanah yang miring sekali, tidak bisa dibangun unit perkolaman karena nantinya bentuk kolamnya akan kecil dan pematangnya lebar. Pematang yang lebar ini berfungsi agar kuat menahan massa air yang besar yang terkumpul di bawahnya. Begitu juga apabila tanahnya terlalu datar, akan memakan biaya yang besar untuk menggali tanahnya. Selain itu juga akan menyulitkan pembuangan airnya (drainase).
Ada enam tipe tempat yang mempunyai sifat dan kegunaan khusus untuk pembuatan kolam, yaitu lembah yang berbentuk V dan lembah yang dasarnya mendatar'
a. Lembah yang berbentuk V tajam
Jangan pernah membuat kolam ikan di lembah ini karena harus membuat pematang yang tinggi untuk mendapatkan kolam yang ukurannya kecil. Hal ini tidak efisien karena hanya membuang biaya dan tenaga dengan percuma, sedangkan usaha yang dilakukan tidak tepat pada sasaran.
b. Lembah yang dasarnya berbentuk V tidak begitu tajam
Lembah yang berbentuk demikian masih memungkinkan untuk dibuat kolam. Hanya saja kolam yang dibuat berukuran kecil-kecil karena dasar lembahnya sempit. Lembah yang berbentuk seperti ini lebih baik jika dibanding lembah yang pertama, karena pematang yang dibuat tidak terlalu lebar.
c. Lembah yang dasarnya berbentuk V membulat
Lembah ini dapat dibuat kolam yang lebih lebar dibandingkan dengan lembah yang berbentuk V tidak begitu tajam. Kesulitan utamanya adalah pada saat diadakan pengeringan, karena sistem pengairan yang terpaksa dibuat secara seri.
d. Lembah yang dasarnya mendatar di salah satu lerengnya dengan sungai yang mengalir di dasar lereng yang lain
Daerah semacam ini relatif lebih mudah dibangun komplek perkolaman yang luas meskipun terpaksa disusun secara seri. Caranya dengan menggali saluran di kaki lereng yang pertama tadi dan membelokkan arus sungai seperlunya sehingga sungai bercabang di suatu tempat yang tinggi. Saluran buatan ini berfungsi memberikan suplai air ke kolam yang dibangun di antara kedua saluran.
e. Lembah yang dasarnya mendatar di kaki kedua lereng dengan saluran sungai di tengah dataran Daerah ini paling ideal untuk dibangun unit perkolaman. Kolam biasanya dibangun dengan ukuran yang lebih luas di kedua sisi aliran sungai tadi. Dengan demikian selain ukuran kolamnya bisa luas, jumlahnya pun bisa banyak. Sumber air bisa diperoleh dengan jalan membendung sungai tadi dan membuat saluran air pemasukan di kedua lereng lembah tadi. Sungai berfungsi sebagai saluran pelimpahan air apabila terjadi banjir besar atau debitnya bertambah sehingga kolam terbebas dari bahaya banjir yang tidak diinginkan.
f.Lembah yang dasarnya terlalu datar
Lembah dengan topografi datar tidak cocok untuk dibangun unit perkolaman. Selain biaya penggalian tanahnya besar, pemilik akan kesulitan untuk membuang atau mengalirkan air setelah unit perkolaman tersebut jadi. Sedangkan syarat kolam yang baik selain mudah diairijuga harus mudah dikeringkan.
Lembah yang terlalu datar akan mengalami masalah ketika hujan deras datang. karena areal perkolaman akan tergenangi air dari sekitar lembah.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Pengumuman Pengadaan CPNS Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Tahun 2009
Pengumuman Pengadaan CPNS DKP Tahun 2009
Departemen Kelautan dan Perikanan dalam Tahun 2009 berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia Nomor 254 Tahun 2009
sumber : http://www.ropeg.dkp.go.id
Departemen Kelautan dan Perikanan dalam Tahun 2009 berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia Nomor 254 Tahun 2009
mendapat Tambahan Formasi Calon Pegawai Negeri Sipil ( CPNS ) untuk pelamar umum sejumlah 629 orang, yang akan ditempatkan/ditugaskan untuk mengisi kekosongan jabatan pada Kantor Pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan ketentuan sebagai berikut :
A. PERSYARATAN
- Warga Negara Indonesia;
- Tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena melakukan suatu tindak pidana kejahatan;
- Tidak pernah diberhentikan tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil, pegawai perusahaan atau pegawai swasta;
- Tidak berkedudukan sebagai CPNS/PNS atau Calon/Anggota TNI/Polri serta tidak sedang menjalani ikatan kerja dengan perusahaan atau suatu anggota profesi lainnya;
- Tidak sedang menjalankan pendidikan formal;
- Berkelakuan baik;
- Sehat jasmani dan rohani;
- Tidak menjadi anggota dan atau pengurus partai politik;
- Usia pada tanggal 1 Desember 2009, serendah-rendahnya 18 tahun dan setinggi-tingginya 35 tahun;
- Pendidikan:
- Pasca sarjana (S2), dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,00;
- Sarjana (S1)/Diploma IV, dan Diploma III, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,50;
- Status akreditasi program studi pada point a dan b minimal B (apabila di dalam ijazah tidak tertera atau mencantumkan status akreditasi maka dibuktikan dengan Surat Keterangan Akreditasi dari Perguruan Tinggi);
- Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri;
- Khusus yang melamar Jabatan Peneliti, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal = 3,00.
sumber : http://www.ropeg.dkp.go.id
Minggu, 27 September 2009
6 (enam) hal pokok yang penting kita perhatikan dalam pemilihan lokasi perkolaman bila dilihat dari segi sosial ekonomi
Pemilihan lokasi perkolaman merupakan hal yang paling penting dalam pembuatan suatu unit perkolaman. Oleh karena itu, pemilihan lokasi ini harus dilakukan dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan dalam memilih.
Ada banyak kasus yang sebenarnya tidak perlu terjadi apabila kita mengetahui persyaratan lokasi kolam yang baik. Contoh dari kasus ini adalah: kolam yang selesai dibangun tidak bisa berproduksi, kolam tidak bisa diairi, sulit mendapatkan makanan atau sulit mendapatkan tenaga kerja. Lokasi perkolaman bisa juga terpaksa ditutup karena airnya tercemar, akan dibangun perumahan, dan lain-lain.
Lokasi yang baik untuk dibangun suatu unit perlombaan harus memenuhi persyaratan dari segi sosial ekonomi maupun teknik.
Setelah mendapatkan lokasi yang memenuhi persyaratan teknis maupun sosial ekonomis, langkah yang perlu dilakukan selanjutnya sebelum di mulai tahap pembangunan unit perkolaman adalah perencanaan.
A. Segi Sosial Ekonomi
Lokasi untuk unit perkolaman harus menguntungkan secara ekonomi. Artinya, penilaian lokasi didasarkan atas efisiensi dan
pemasaran. Yang ditekankan di sini, lokasi perkolaman sebaiknya memperhatikan hal berikut.
1. Dekat dengan jalan umum
Dalam usaha perkolaman, akses jalan mempunyai peranan yang sangat penting. Apabila lokasi perkolaman agak jauh dari Jalan umum sebaiknya perlu dibuatkan jalan khusus. Adanya jalan yang baik akan memudahkan transportasi untuk bahan bangunan pembuatan kolam, transportasi sarana produksi pada masa pemeliharaan, maupun transportasi produksi ikan nantinya. Apabila jalan umum ini tidak ada atau jelek maka akan menaikkan biaya eksploitasi. Akibatnya ongkos produksi akan naik, sehingga hasilnya panen hanya cukup untuk menutup ongkos produksi. Namun, jika prasarana jalan ini baik maka para pedagang ikan atau tengkulak pun tidak akan segan untuk datang dan membeli hasil ikan tersebut. Jadi, prasarana jalan jelas sangat penting.
2. Dekat dengan rumah
Usaha perikanan tidak sama dengan usaha pertokoan di pasar yang barang-barangnya bisa ditinggalkan di toko pada malam hari kemudian dibuka lagi keesokan harinya. Usaha perikanan menuntut pengorbanan kita untuk bisa berkembang dan berhasil. Kita tidak bisa meninggalkan usaha ini meskipun kita telah mempunyai pekerja yang mengurus kolam kita. Disini kita dituntut agar selalu mengawasinya. Oleh karena itu, untuk memudahkan pengawasan usaha ini maka lokasi perkolaman harus dekat dengan rumah. Pengawasan ini sangat penting terutama pada saat musim hujan dimana saluran air atau sungai meluap. Pengawasan yang kurang akan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Apabila kita akan membangun suatu unit perkolaman yang jauh dari tempat tinggal kita maka harus dibuat rumah jaga dengan mempekerjakan beberapa tenaga kerja yang terampil dan bisa dipercaya. Artinya, lokasi perkolaman yang jauh dengan rumah tinggal akan memerlukan tambahan biaya untuk membuat rumah jaga, membayar gaji parapekerja, ditambah lagi biaya transportasi pemilik kolam pada saat melakukan monitoring.
3. Daerah pengembangan budi days ikan
Tempat yang akan dibangun perkolaman diusahakan merupakan daerah pengembangan budidaya ikan. Ini dimaksudkan agar memudahkan dan memasarkan hasil panen. Selain itu juga harus diingat ikan yang akan dipelihara adalah jenis ikan yang sangat disukai masyarakat setempat, misalnya ikan karper, tawes, lele, gurame, dan lain sebagainya. Kalau usaha perikanan kita sudah besar maka pemilihan jenis ikan yang dipelihara adalah jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan disukai masyarakat luas, sehingga akan memudahkanjuga dalam hal pemasarannya.
4. Keamanan terjamin
Segi keamanan juga harus benar-banar diperhatikan. Daerah yang akan dijadikan tempat usaha haruslah aman dari segala macam
gangguan, baik gangguan dari manusia jahil, maupun dari gangguan hewan-hewan pemangsa ikan, misalnya anjing air, burung, ular dan lain sebagainya. Untuk menjaga keamanan yang disebabkan manusia kita haruslah bisa menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar kita, sehingga mereka turut memiliki dan menjaga. Kita harus Ingat bahwa usaha perikanan yang luas pun bisa bangkrut hanya dengan perbuatan anak kecil yang iseng membuang kaleng bekas Baygon ataupun obat serangga lainnya. Oleh karena itu membina hubungan baik dengan masyarakat sekitar perkolaman sangatlah penting. Sedangkan untuk menjaga keselamatan ikan dari hewan pemangsa (predator) bisa diatasi dengan teknik pengolahan yang baik.
5. Perkembangan kota dan industri
Hal penting selain keempat syarat tersebut diatas adalah kita harus mengetahui rencana pembangunan pemerintah pusat maupun daerah. Hal ini sangat penting untuk kelangsungan usaha yang akan dijalankan. Jangan sampai usaha yang sudah mulai berjalan dan menghasilkan sudah harus ditutup karena adanya pemekaran kota, atau akan didirikan pabrik. Atau mungkin juga pabrik yang dibangun jauh dari lokasi perkolaman tetapi pembuangan limbah pabrik tersebut mencemarkan air yang masuk ke kolam yang sudah di bangun. Oleh karena itu, lokasi perkolaman harus tidak terkena pemekaran kota dan pengaruh kurang baik dari industri paling sedikit dalam jangka waktu 15-20 tahun.
6. Mudah mendapatkan tenaga kerja
Yang terakhir adalah masalah tenaga kerja yang mudah didapatkan dengan imbalan yang wajar, terutama tenaga kerja yang telah terampil dalam memelihara ikan. Jika lokasi perkolaman terletak di daerah pengembangan budidaya ikan maka tenaga kerja di daerah tersebut diharapkan telah menguasai teknik perikanan.
Itulah enam hal pokok yang penting kita perhatikan dalam pemilihan lokasi perkolaman bila dilihat dari segi sosial ekonomi.
Keenam hal pokok tersebut saling berhubungan dan tidak boleh terpisah satu sama lain.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Ada banyak kasus yang sebenarnya tidak perlu terjadi apabila kita mengetahui persyaratan lokasi kolam yang baik. Contoh dari kasus ini adalah: kolam yang selesai dibangun tidak bisa berproduksi, kolam tidak bisa diairi, sulit mendapatkan makanan atau sulit mendapatkan tenaga kerja. Lokasi perkolaman bisa juga terpaksa ditutup karena airnya tercemar, akan dibangun perumahan, dan lain-lain.
Lokasi yang baik untuk dibangun suatu unit perlombaan harus memenuhi persyaratan dari segi sosial ekonomi maupun teknik.
Setelah mendapatkan lokasi yang memenuhi persyaratan teknis maupun sosial ekonomis, langkah yang perlu dilakukan selanjutnya sebelum di mulai tahap pembangunan unit perkolaman adalah perencanaan.
A. Segi Sosial Ekonomi
Lokasi untuk unit perkolaman harus menguntungkan secara ekonomi. Artinya, penilaian lokasi didasarkan atas efisiensi dan
pemasaran. Yang ditekankan di sini, lokasi perkolaman sebaiknya memperhatikan hal berikut.
1. Dekat dengan jalan umum
Dalam usaha perkolaman, akses jalan mempunyai peranan yang sangat penting. Apabila lokasi perkolaman agak jauh dari Jalan umum sebaiknya perlu dibuatkan jalan khusus. Adanya jalan yang baik akan memudahkan transportasi untuk bahan bangunan pembuatan kolam, transportasi sarana produksi pada masa pemeliharaan, maupun transportasi produksi ikan nantinya. Apabila jalan umum ini tidak ada atau jelek maka akan menaikkan biaya eksploitasi. Akibatnya ongkos produksi akan naik, sehingga hasilnya panen hanya cukup untuk menutup ongkos produksi. Namun, jika prasarana jalan ini baik maka para pedagang ikan atau tengkulak pun tidak akan segan untuk datang dan membeli hasil ikan tersebut. Jadi, prasarana jalan jelas sangat penting.
2. Dekat dengan rumah
Usaha perikanan tidak sama dengan usaha pertokoan di pasar yang barang-barangnya bisa ditinggalkan di toko pada malam hari kemudian dibuka lagi keesokan harinya. Usaha perikanan menuntut pengorbanan kita untuk bisa berkembang dan berhasil. Kita tidak bisa meninggalkan usaha ini meskipun kita telah mempunyai pekerja yang mengurus kolam kita. Disini kita dituntut agar selalu mengawasinya. Oleh karena itu, untuk memudahkan pengawasan usaha ini maka lokasi perkolaman harus dekat dengan rumah. Pengawasan ini sangat penting terutama pada saat musim hujan dimana saluran air atau sungai meluap. Pengawasan yang kurang akan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Apabila kita akan membangun suatu unit perkolaman yang jauh dari tempat tinggal kita maka harus dibuat rumah jaga dengan mempekerjakan beberapa tenaga kerja yang terampil dan bisa dipercaya. Artinya, lokasi perkolaman yang jauh dengan rumah tinggal akan memerlukan tambahan biaya untuk membuat rumah jaga, membayar gaji parapekerja, ditambah lagi biaya transportasi pemilik kolam pada saat melakukan monitoring.
3. Daerah pengembangan budi days ikan
Tempat yang akan dibangun perkolaman diusahakan merupakan daerah pengembangan budidaya ikan. Ini dimaksudkan agar memudahkan dan memasarkan hasil panen. Selain itu juga harus diingat ikan yang akan dipelihara adalah jenis ikan yang sangat disukai masyarakat setempat, misalnya ikan karper, tawes, lele, gurame, dan lain sebagainya. Kalau usaha perikanan kita sudah besar maka pemilihan jenis ikan yang dipelihara adalah jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan disukai masyarakat luas, sehingga akan memudahkanjuga dalam hal pemasarannya.
4. Keamanan terjamin
Segi keamanan juga harus benar-banar diperhatikan. Daerah yang akan dijadikan tempat usaha haruslah aman dari segala macam
gangguan, baik gangguan dari manusia jahil, maupun dari gangguan hewan-hewan pemangsa ikan, misalnya anjing air, burung, ular dan lain sebagainya. Untuk menjaga keamanan yang disebabkan manusia kita haruslah bisa menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar kita, sehingga mereka turut memiliki dan menjaga. Kita harus Ingat bahwa usaha perikanan yang luas pun bisa bangkrut hanya dengan perbuatan anak kecil yang iseng membuang kaleng bekas Baygon ataupun obat serangga lainnya. Oleh karena itu membina hubungan baik dengan masyarakat sekitar perkolaman sangatlah penting. Sedangkan untuk menjaga keselamatan ikan dari hewan pemangsa (predator) bisa diatasi dengan teknik pengolahan yang baik.
5. Perkembangan kota dan industri
Hal penting selain keempat syarat tersebut diatas adalah kita harus mengetahui rencana pembangunan pemerintah pusat maupun daerah. Hal ini sangat penting untuk kelangsungan usaha yang akan dijalankan. Jangan sampai usaha yang sudah mulai berjalan dan menghasilkan sudah harus ditutup karena adanya pemekaran kota, atau akan didirikan pabrik. Atau mungkin juga pabrik yang dibangun jauh dari lokasi perkolaman tetapi pembuangan limbah pabrik tersebut mencemarkan air yang masuk ke kolam yang sudah di bangun. Oleh karena itu, lokasi perkolaman harus tidak terkena pemekaran kota dan pengaruh kurang baik dari industri paling sedikit dalam jangka waktu 15-20 tahun.
6. Mudah mendapatkan tenaga kerja
Yang terakhir adalah masalah tenaga kerja yang mudah didapatkan dengan imbalan yang wajar, terutama tenaga kerja yang telah terampil dalam memelihara ikan. Jika lokasi perkolaman terletak di daerah pengembangan budidaya ikan maka tenaga kerja di daerah tersebut diharapkan telah menguasai teknik perikanan.
Itulah enam hal pokok yang penting kita perhatikan dalam pemilihan lokasi perkolaman bila dilihat dari segi sosial ekonomi.
Keenam hal pokok tersebut saling berhubungan dan tidak boleh terpisah satu sama lain.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Jenis Kolam Ikan Menurut Aliran Airnya
Menurut Aliran Airnya
Berdasarkan aliran air yang masuk, kolam dibedakan menjadi 2 macam.
1. Kolam air tergenang (stagnant water pond)
Kolam air tergenang biasanya ditandai dengan luasnya yang relatif besar. Meskipun dikatakan kolam air tergenang, bukan berarti tidak ada aliran air sama sekali. Aliran air biasanya dimaksudkan untuk mengganti kebocoran dan penguapan. Jadi aliran air ini tidak begitu berpengaruh pada kehidupan jasad renik di kolam tersebut.
2. Kolam air mengalir (running water pond)
Berbeda dengan jenis yang pertama, kolam air mengalir (ruining water pond) biasanya berukuran kecil. Aliran air yang deras
menyebabkan kolam miskin jasad hidup. Dengan aliran air yang deras diharapkan air kolam kaya oksigen. Dasar kolam biasanya gersang.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Berdasarkan aliran air yang masuk, kolam dibedakan menjadi 2 macam.
1. Kolam air tergenang (stagnant water pond)
Kolam air tergenang biasanya ditandai dengan luasnya yang relatif besar. Meskipun dikatakan kolam air tergenang, bukan berarti tidak ada aliran air sama sekali. Aliran air biasanya dimaksudkan untuk mengganti kebocoran dan penguapan. Jadi aliran air ini tidak begitu berpengaruh pada kehidupan jasad renik di kolam tersebut.
2. Kolam air mengalir (running water pond)
Berbeda dengan jenis yang pertama, kolam air mengalir (ruining water pond) biasanya berukuran kecil. Aliran air yang deras
menyebabkan kolam miskin jasad hidup. Dengan aliran air yang deras diharapkan air kolam kaya oksigen. Dasar kolam biasanya gersang.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Sabtu, 26 September 2009
Pembesaran Lele Dumbo
Pembesaran
Pembesaran adalah pemeliharaan lele dumbo yang berasal dal pendederan (I dan II) untuk dipelihara dalam jangka waktu tertentu hingga mencapai ukuran yang siap dipasarkan ke konsumen. Ukurannya 6-12 ekor per kg. Pembesaran lele dumbo ini dapat dilakukan di kolam tanah, kolam tembok, atau di jaring apung.
Bentuk kolam yang ideal untuk memelihara lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2 dengan kedalaman 1-1,5 m dan kemiringan kolam dari lubang pemasukan air ke lubang pengeluaran air 0,5%. Di bagian tengah dasar kolam dibuat parit (kamalir) yang melintang dari lubang pemasukan air ke pengeluaran air.
Parit dibuat selebar 30 -50 cm dengan kedalaman 10-15 cm. Sementara itu, jika
menggunakan jaring apung dapat menggunakan konstruksi jaring apung yang umum digunakan pembudidaya ikan. Hanya saja, ukuran mata jaringnya harus lebih kecil dari ukuran tubuh ikan yang ditebar agar ikan yang dipelihara tidak lolos atau melarikan diri.
lubang pemasukan dan pengeluaran air dibuat dengan ukuran 15 - 20 cm. Lubang pengeluaran air dapat berupa monik atau siphon. Monik terbuat terbuat dari semen atau tembok yang terdiri dari dua bagian,yaitu bagian kotak dan pipa pengeluaran. Pada bagian kotak dipasang papan penyekat yang terdiri dari dua lapis, satu di antaranya diisi dengan tanah dan satu lapis saringan. Tinggi papan disesuaikan dengan tinggi air yang dikehendaki.
Sementara itu, bentuk lubang pengeluaran air yang berupa siphon lebih sederhana. Hanya terdiri dari pipa paralon yang terpasang di bawah kolam dengan tambahan pipa berbentuk "L" yang mencuat ke atas sesuai dengan ketinggian air kolam. Di lubang pemasukan dan pengeluaran air dapat dipasang saringan untuk mencegah keluarnya ikan.
Selain pakan alami, untuk mempercepat pertumbuhan, lele perlu diberi pakan tambahan. Jumlah pakan tambahan yang diberikan sebanyak 2-5% per hari dari berat total ikan yang ditebar ke kolam. Pemberian pakan tambahan ini dilakukan 3-4 kali setiap hari. Komposisi pakan tambahan yang diberikan dapat berupa campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1 : 9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, dan cincangan bekicot dengan perbandingan 2 : 1 : 1 campuran tersebut dapat dibuat dalam bentuk pelet.
Lele dumbo akan mencapai ukuran konsumsi setelah dibesarkan selama 130 hari, dengan bobot antara 200-250 gram dan panjang 15-20 cm per ekor. Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam agar ikan berkumpul di kamalir, sehingga. mudah ditangkap menggunakan waring atau lambit. Cara lain memanen lele adalah dengan
menggunakan pipa ruas bambu atau pipa paralon yang diletakkan d dasar kolam. Saat air kolam disurutkan, lele akan masuk ke dalam ruas bambu atau paralon tersebut.
Lele hasil tangkapan dikumpulkan di wadah berupa ayakan (happa) yang dipasang di kolam yang airnya terus mengalir. Hal ini dilakukan untuk mengistirahatkan ikan sebelum diangkut untuk dipasarkan*.
Pengangkutan lele dapat dilakukan menggunakan karamba, pikulan ikan, atau jerigen plastik yang diperluas lubang permukaannya. Perlu diingat, jangan menggunakan media pengangkut berupa kantong plastik karena akan mudah bocor terkena patil lele.
sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, AgroMedia Pustaka, 2008
Pembesaran adalah pemeliharaan lele dumbo yang berasal dal pendederan (I dan II) untuk dipelihara dalam jangka waktu tertentu hingga mencapai ukuran yang siap dipasarkan ke konsumen. Ukurannya 6-12 ekor per kg. Pembesaran lele dumbo ini dapat dilakukan di kolam tanah, kolam tembok, atau di jaring apung.
Bentuk kolam yang ideal untuk memelihara lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2 dengan kedalaman 1-1,5 m dan kemiringan kolam dari lubang pemasukan air ke lubang pengeluaran air 0,5%. Di bagian tengah dasar kolam dibuat parit (kamalir) yang melintang dari lubang pemasukan air ke pengeluaran air.
Parit dibuat selebar 30 -50 cm dengan kedalaman 10-15 cm. Sementara itu, jika
menggunakan jaring apung dapat menggunakan konstruksi jaring apung yang umum digunakan pembudidaya ikan. Hanya saja, ukuran mata jaringnya harus lebih kecil dari ukuran tubuh ikan yang ditebar agar ikan yang dipelihara tidak lolos atau melarikan diri.
lubang pemasukan dan pengeluaran air dibuat dengan ukuran 15 - 20 cm. Lubang pengeluaran air dapat berupa monik atau siphon. Monik terbuat terbuat dari semen atau tembok yang terdiri dari dua bagian,yaitu bagian kotak dan pipa pengeluaran. Pada bagian kotak dipasang papan penyekat yang terdiri dari dua lapis, satu di antaranya diisi dengan tanah dan satu lapis saringan. Tinggi papan disesuaikan dengan tinggi air yang dikehendaki.
Sementara itu, bentuk lubang pengeluaran air yang berupa siphon lebih sederhana. Hanya terdiri dari pipa paralon yang terpasang di bawah kolam dengan tambahan pipa berbentuk "L" yang mencuat ke atas sesuai dengan ketinggian air kolam. Di lubang pemasukan dan pengeluaran air dapat dipasang saringan untuk mencegah keluarnya ikan.
Selain pakan alami, untuk mempercepat pertumbuhan, lele perlu diberi pakan tambahan. Jumlah pakan tambahan yang diberikan sebanyak 2-5% per hari dari berat total ikan yang ditebar ke kolam. Pemberian pakan tambahan ini dilakukan 3-4 kali setiap hari. Komposisi pakan tambahan yang diberikan dapat berupa campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1 : 9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, dan cincangan bekicot dengan perbandingan 2 : 1 : 1 campuran tersebut dapat dibuat dalam bentuk pelet.
Lele dumbo akan mencapai ukuran konsumsi setelah dibesarkan selama 130 hari, dengan bobot antara 200-250 gram dan panjang 15-20 cm per ekor. Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam agar ikan berkumpul di kamalir, sehingga. mudah ditangkap menggunakan waring atau lambit. Cara lain memanen lele adalah dengan
menggunakan pipa ruas bambu atau pipa paralon yang diletakkan d dasar kolam. Saat air kolam disurutkan, lele akan masuk ke dalam ruas bambu atau paralon tersebut.
Lele hasil tangkapan dikumpulkan di wadah berupa ayakan (happa) yang dipasang di kolam yang airnya terus mengalir. Hal ini dilakukan untuk mengistirahatkan ikan sebelum diangkut untuk dipasarkan*.
Pengangkutan lele dapat dilakukan menggunakan karamba, pikulan ikan, atau jerigen plastik yang diperluas lubang permukaannya. Perlu diingat, jangan menggunakan media pengangkut berupa kantong plastik karena akan mudah bocor terkena patil lele.
sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, AgroMedia Pustaka, 2008
Langganan:
Postingan (Atom)