Tampilkan postingan dengan label pemijahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemijahan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Februari 2009

Budidaya Ikan Hias : Jelawat (Leptobarbus hoeveni)

Jelawat


Jelawat (Leptobarbus hoeveni) atau Red-finned Cigar Shark berasal dari Kalimantan dan Thailand. Namun, ikan ini sangat popuker di Malaysia sebagai ikan hias. Sementara ikan yang sudah besar digunakan sebagai ikan konsumsi. Ukuran terbesar dapat mencapai 40 cm. Dijadikan ikan hias karena warna tubuhnya sangat menarik.



Sisiknya berwarna perak agak ke-hijauan, punggungnya cokelat agak hitam, dan sirip-siripnya merah.
Suhu optimal perairan antara 26-29° C dengan pH 7,0 dan kekerasan 10° dH. Ikan ini bersifat omnivore yang cenderung herbivore. Di habitat aslinya, ikan ini memakan buah-buahan, biji-bijian, dan tanaman air. Untuk budi daya, pakannya dapat berupa pelet dan sedikit sayuran seperti selada air atau bayam.


Induk jelawat harus yang sudah berukuran lebih dari 1,5 kg dengan panjang 40 cm atau sudah berumur sekitar 3 tahun. Karena ukurannya cukup besar maka pemeliharaan induknya pun sebaiknya di kolam yang cukup luas.


Untuk pemijahan, diperlukan rangsangan dengan hormon buatan. Dosis hormon cukup banyak, sekitar 0,9 ml/kg berat induk betina dan 0,4 ml/kg berat induk jantan, karena ikan ini masih berasal dari alam atau belum lama dibudidayakan. Penyuntikan pada induk betina dilakukan dua kali, yaitu 0,3 ml/kg dan 0,6 ml/kg dengan interval waktu sekitar 7 jam. Penyuntikan pertama sebaiknya sore hari dan kedua pada malam hari.


Telur yang dihasilkan cukup banyak, dapat mencapai 100.000 butir untuk setiap induk seberat 1,5 kg. Pengambilan telur tersebut dilakukan dengan cars stripping pada pagi hari. Telur yang d-stripping tersebut dimasukkan dalam wadah, lalu dicampurkan dengan sperma yang juga di-stripping. Aduk merata telur dan sperma dengan menggunakan bulu ayam atau kuas halus. Agar semua telur dapat terbuahi dengan sperma, sebaiknya perbandingan jantan dan betina 3 : 2. Setelah relur diaduk merata, tambahkan air bersih secukupnya (macak-macak) dan aduk beberapa saat. Selanjutnya, cuci telur tersebut dengan air bersih. Telur yang sudah bersih siap untuk ditetaskan.


Penetasan telur dilakukan dalam wadah penetasan berbentuk yang
corong dibuat dari kain atau bahan halus. Wadah ini diletakkan dalam bak penetasan. Bagian bawah corong diberi selang untuk pengeluaran air. Air akan dialirkan dari tetas corong selama telur ditetaskan. Penetasan dalam akuarium atau wadah lain pun
dapat dilakukan asalkan aerasinya cukup kuat untuk menghindari telur mengumpul. Telur yang mengumpul sulit atau tidak akan menetas. Telur akan menetas dalam jangka waktu 24 jam.


Setelah menetas, larvanya akan berenang mulai umur dua hari. Bila menggunakan corong untuk penetasan, larvanya harus segera dipindahkan ke akuarium. Namun, kalau menggunakan akuarium, larvanya dibiarkan saja. Air dalam akuarium untuk pemeliharaan larva perlu ditambahkan garam dapur sebanyak satu sendok teh setiap 10 l air.

Pakan pertama bagi larva dapat berupa infusoria yang diberikan selama enam hari. Setelah itu, larva dapat diberi pakan berupa tetasan artemia atau kutu air. Penggantian air dapat dilakukan dengan cara penyifonan secara hati-hati. jumlah air yang diganti cukup setengahnya saja.
Pembesaran jelawat dapat dilakukan dalam kolam setelah berumur 30 hari.

Ukuran jualnya sebagai ikan hias akuarium sekitar 10-15 cm atau sudah berumur 3-4 bulan. Perlu diperhatikan bahwa ikan ini banyak membutuhkan oksigen dan sangat rentan dengan kadar oksigen rendah. Oleh karenanya, saat pengangkutan ataupun penampungan harus diperhitungkan jumlah oksigen, jangan sampai kekurangan.

sumber : Darti S.L dan iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Pemijahan Ikan Hias secara Buatan : Red-finned Shark (Ephalzeorhynchus frenatus)

Red-finned Shark


Red-finned Shark (Ephalzeorhynchus frenatus) merupakan ikan dasar yang berasal dari Sungai Mekong, Thailand. Ikan yang bersifat omnivora ini sangat cantik dengan warna tubuh cokelat hitam atau putih albino dan sirip-siripnya merah terang. Ukuran tubuh maksimalsekitar 12 cm.


Suhu pemeliharaan antara 26-28° C dengan pH 7,5 dan kekerasan 10° dH. Di alam aslinya, ikan dewasa senang, memakan lumut sehingga dinding akuarium biasanya bersih dari lumut. Sifatnya agak pemalu dan senang bersembunyi pada siang hari, sedangkan malam hari akan keluar mencari makanan.



Induk jantan dan betina agak sulit dibedakan. Namun, bentuk tubuh yang agak gemuk dan sedikit panjang biasanya adalah betina, sedangkan jantan agak pendek dan langsing. Pemijahannya dilakukan dengan suntikan hormon gonadotropin buatan seperti Ovaprim pada induk yang sudah matang telur. Dosis hormon cukup 0,3 ml/kg, berat badan.



Suntikan hanya dilakukan sekali saja. Oleh karena ukuran ikan ini tidak besar maka penyuntikan dapat dilakukan hanya dengan memegang induknya menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanan untuk menyuntik.
Pemijahan dapat dilakukan secara masal. Induk-induk yang sudah bertelur harus secepatnya diambil dan telurnya dibiarkan menetas sendiri tanpa induk. Ikan ini berenang di dasar sehingga telurnya akan berantakan bila terlalu lama bersama induknya. Oleh karena itu, penyuntikan akan lebih baik dilakukan siang hari agar ikan bisa bertelur malam hari. Ini disebabkan waktu terbaik mengangkat induknya adalah malam hari. Misalnya, penyuntikan yang dilakukan pukul 11.00 diperkirakan ikan akan bertelur pukul 20.00.


Telur akan mulai menetas dalam jangka waktu 24 jam dan laivanya mulai berenang 3-4 hari kemudian. Pakan larva dapat berupa infusoria, kutu air halus, atau tetasan artemia yang berlangsung 36 jam. Pakan ikan dewasa berupa cacing sutera atau cacing darah. Ukuran jual sekitar 5 cm atau sudah berumur sekitar 4 bulan.

sumber : Dari S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Jumat, 06 Februari 2009

Pemijahan Ikan Hias secara Buatan : Bawal air tawar (Calosoma sp.)

Bawal air tawar

Bawal air tawar (Calosoma sp.) termasuk ikan herbivore. Di alam aslinya ikan ini memakan buah-buahan yang jatuh ke air. Sementara untuk pemeliharaan, pakannya dapat berupa sayur dan buah seperti jambu air. Bawal air tawar lebih dikenal sebagai ikan konsumsi bila ukurannya sudah mencapai lebih dari 500 g, sedangkan sebagai ikan hias hanya yang berukuran kecil, sekitar 5-10 cm.

Ikan ini terdiri dari dua species yang daerah asalnya berbeda. Calosoma macropomum berasal dari Sungai Amazone, Amerika Selatan dan Calosoma bidens berasal dari Asia Tenggara (Sumatera). Suhu optimal perairannya sekitar 25-27° C dengan pH 6,7-7,0 dan kekerasan 10° dH.




Bentuk tubuh ikan ini sangat bagus dan menarik, mirip ikan Silver Dolar. Warnanya perak atau putih kehitaman dengan punggung hitam. Di daerah perut terdapat warna merah. Sirip-siripnya berwarna hitam atau agak perak.

Untuk mencapai induk, dibutuhkan waktu yang cukup lama, antara 2-4 tahun, dan ukuran minimalnya 2,5 kg. Induk yang baik dan menghasilkan cukup banyak telur kalau sudah berukuran 4 kg atau berumur sekitar tiga tahun. Pemijahan induk memerlukan rangsangan dengan suntikan hormon sebanyak dua kali untuk betina dan sekali untuk jantan. Dosis yang umum digunakan 0,5-0,6 ml/kg berat badan induk. Penyuntikan pada betina dilakukan dengan interval 10-12 jam.

Pengambilan atau pengeluaran telur dilakukan tanpa stripping, yaitu hanya menempatkan induknya dalam kolam pemijahan yang cukup luas karena induknya cukup besar.

Agar pembuahan telur menjadi efektif, perbandingan induk jantan dan betina adalah 2 : 1. Biasanya pengeluaran telur ini berlangsung sekitar 9-10 jam sesudah penyuntikan kedua. Telur dikeluarkan dengan cara diserakkan di dasar kolam. Telur ikan ini biasanya melayang sehingga ketinggian air untuk penetasan sebaiknya dibuat tinggi, sekitar 30-35 cm.

Setelah dibuahi, induk dikeluarkan dari kolam dan telurnya dibiarkan menetas tanpa induk dalam kolam pemijahan. Selama proses penetasan, aerasi harus kuat karena telur-telurnya bersifat melayang. Telur yan tenggelam biasanya tidak akan menetas.Telur akan menetas setelah 24 jam.


Larva akan mulai berenang 3-4 hari kemudian. Agar mudah dikontrol, larva yang sudah bisa berenang dapat dipindahkan ke dalam akuarium atau bak fiberglas. Akan lebih baik lagi kalau kolam pemijahan dilengkapi hapa sehingga pengambilan larvanya menjadi mudah.

pakan pertama bagi larva berupa infusoria, artemia yang ditetaskan Selama 24-36 jam, atau kutu air halus. Pemberian pakan ini harus sesering mungkin, sekitar 4-6 kali sehari, karena larvanya kuat makan. Bila pakannya kurang, larva akan mudah mati. Sementara penggantian air dapat dilakukan setelah larva mulai diberi pakan, yaitu enam hari setelah menetas. Penggantian air ini harus hati-hati karena larvanya sangat kecil.

Sebagai ikan hias, ikan ini dapat dijual setelah berukuran 5-10 cm dengan waktu pemeliharaan 3-4 bulan. Ikan yang laku bisa jantan dan betina.
sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006