Senin, 29 Juni 2009

Patin - P. hypophthalmus (tra/siam)

P. hypophthalmus (tra/siam)

Produksi patin Vietnam sebagian besar (90%) adalah dari jenis
ini. Dibandingkan dengan basa, jenis tra (P. hypophthalmus) kandungan lemaknya lebih rendah dan pertumbuhannya hanya membutuhkan waktu 6 bulan untuk mencapai berat 1,5 - 2 kg sehingga dalam 1 tahun bisa dilakukan 2 kali panen.


Sebuah sumber di Vietnam mengatakan jika tra dapat menghasilkan 3 warna daging yaitu putih, merah dan kuning tergantung dari proses budididayanya serta proses slaughtering sebelum pemiletan. Daging warna putih alamiah tanpa bahan aditif dihasilkan jika sewaktu budidaya patin tersebut cukup oksigen dan proses slaughtering dan pemiletan berlangsung dengan sempurna.


Di Indonesia, Pangusius hypophthalmus dikenal sebagai patin siam dan merupakan jenis mayoritas yang dibudidayakan. Patin siam mempunyai daging berwarna kuning kemerahan, dan relatif mudah dibudidayakan. jenis patin ini sangat populer dan mudah memasyarakat karena mampu menghasilkan telur atau benih dalam jumlah relatif banyak setiap kali dipijahkan.

Permintaan pasar di dalam negeri cukup tinggi, terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan.
Sebutan atau nama patin siam di setiap tempat dan negara berbeda-beda. Di negara asalnya (Thailand), patin siam bernama Pla Sawai. Di Malaysia, selain diberi nama patin, disebut juga ikan lawang, martinus, dan tikol. Di Vietnam, patin siam disebut Ca Tre Yu atau tra, di Kamboja disebut Trey Pra. Sedangkan di Indonesia, selain dinamakan ikan patin disebut juga jambal siam, dan ikan juaro (Sumatra dan Kalimantan).

sumber : warta pasar ikan, dir. pemasaran dalam negeri, ditjen p2hp, dkp, 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar